Reaktualisasi Pemikiran Pendiri Bangsa

Sejarah adalah mata air teladan dan pembelajaran kehidupan

yang menautkan masa lalu dengan masa depan.

Ketidakmampuan kita memecahkan masalah hari ini,

disebabkan ketidakmampuan kita merawat warisan terbaik masa lalu.

(SPPB-Megawati Institute 2011)

Suatu pemikiran tidaklah muncul dengan cara tiba-tiba. Diperlukan proses panjang dalam menelorkan sebuah pemikiran konstruktif-kontributif, yang tak bisa lepas dari konteks ruang dan waktu. Melacak alur sungai pemikiran yang memiliki mata rantai nan panjang dan berliku sampai ke hulu bukanlah suatu perkara yang gampang. Di sinilah kita memerlukan pisau analisa dan metode geneologi yang dikumandangkan oleh Michel Foucault (w.1984).

Geneologi merupakan studi mengenai evolusi dan jaringan dari sekelompok orang sepanjang beberapa generasi. Konsep geneologi ini berguna untuk memerhatikan gerak perkembangan diakronik dan rantai pemikiran antar generasi para pemikir pendiri bangsa. Dalam pandangan Foucult, sejarah selalu ditulis dari perspektif dan pemenuhan kebutuhan masa kini. Fakta bahwa masa kini selalu berada dalam sebuah proses transformasi mengandung implikasi bahwa masa lalu haruslah terus menerus dievaluasi ulang. Geneologi berguna untuk memerhatikan dinamika, transformasi dan diskontinuitas dalam gerak perkembangan historis dari pendiri bangsa.

Dinamika pemikiran di Eropa khususnya di Belanda sangat berpengaruh terhadap kebijakan pemerintah Hindia-Belanda di Nusantara. Hal yang utama adalah dalam sistem ekonomi liberal. Karena banyaknya kaum pribumi yang menjadi buruh dan kalangan bangsawan yang bekerja di bawah pemerintahan, maka untuk meningkatkan efektifitas dan efesiensi kinerja pegawai dan buruh, pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah biasa dan sekolah ala Belanda. Pendidikan ala Belanda ini hanya diperuntukkan bagi kalangan ningrat, sedangkan pribumi hanya di sekolah biasa saja. Begitu pula dengan sekolah kedokteran jawa ( yang berubah nama menjadi STOVIA ) dijadikan untuk menangani tenaga kerja pribumi yang mengalami gangguan kesehatan.

Ternyata, apa yang diinginkan oleh Belanda dari politik etis yang mereka terapkan tak sesuai dengan harapan. Malah dari kebijakan itu melahirkan suatu kesadaran kolektif dari putra bangsa yang terdidik dan tercerahkan. Kesadaran itu berupaya untuk mengaktualisasikan makna terdalam “kemajoean”.

Para sejarawan menjelaskan, bahwa akhir abad XIX merupakan awal kemunculan dan kelahiran pemikir-pemikir bangsa. Diantaranya Generasi awal : RM Tirto Adi Suryo, Tjipto Mangunkusumo, Agus Salim, Kartini, HOS Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, generasi kedua : Tan Malaka, Soekarno, Mohamad Hatta, Sutan Syahrir, M.Natsir dsb. Masing-masing tokoh memiliki konsep dan peran yang berbeda-beda dalam mengembangkan diskursus-diskursus di masa itu. Meskipun berbeda, mereka sama-sama menuju tujuan yang sama ( kalimatun sawa’ ) yaitu Kemajuan dan Kemerdekaan.

Dalam tulisan ini, kita tidak membahas tentang pergolakan hidup tokoh secara detail. Akan tetapi, hanya sekedar pengantar diskusi untuk menganalisa arus zaman yang mengkonstruk paradigma berpikir dan percikan-percikan pemikiran mereka serta memilah mana pemikiran yang masih relevan untuk di aktualisasikan dalam konteks kekinian.

Pembentukan paradigma berpikir bermula dari pendidikan yang mereka peroleh dari pemerintah Hindia Belanda dan pengalaman hidup yang mengesankan. Berangkat dari itu tumbuh kesadaran diri untuk memperjuangkan nasib pribumi.

Secara general pemikiran yang dihasilkan bersifat kekirian; sosial demokrat bahkan sosialis komunis. Hatta dan Syahrir merupakan sosok sosial demokrat, Tan Malaka menganut Marxist tafsiran Tolsky dan SI merah lebih dominan mengarah pada Marxist tafsiran Lenin.

Hal ini merupakn bentuk antitesa dari kalangan imperealis yang kapitalis. Tak ada pilihan lain untuk melawan kapitalis-imperalis selain menumbuhkan kesadaran bersama pada pribumi yang tertindas. Maka diperlukan suatu bentuk perlawanan yang terstruktur dan sistematis  sebagaimana yang diutarakan Tan Malaka dalam Aksi Massa. Revolusi harus 100 %.

Generasi awal hanya sekedar pembuka pintu, berawal reflkesi dan kesadaran akan nasib bangsa sendiri. Sedangkan generasi kedua yang nantinya menyususn agenda besar kemerdekaan kita terinspirasi dari generasi pertama. Seperti Cokroaminoto merupakan rumah singgah generasi kedua dalam mendiskusikan nasib bangsa kita. Perjuangan kaum muda tanpa henti dan rela mengorbankan diri mereka sendiri. Seperti kasus sidang gugatan Soekarno yang paling terkenal “Indonesia Menggugat”, sidang Hatta di Eropa “Indonesia merdeka” dan lainnya. Atas inilah mereka mulai menampakkan sikap besebrangan dengan Belanda dan menyebabkan mereka keluar-masuk penjara dan ditempatkan di pengasingan. Memang pengorbanan merupakan tuntutan perjuangan yang tak terelakkan.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, masing-masing tokoh memiliki konsep dan peran yang berbeda-beda. Tentu, semua itu tidak bisa dilepaskan dari pengetahuan dan pengalaman yang melekat pada diri mereka. Pemikiran-pemikiran mereka dapat kita peroleh dari karya-karyanya. Tan Malaka dengan Aksi massa, Gerpolek dan Madilognya. Hatta dengan Demokrasi Kita ( demokrasi politik + demokrasi ekonomi = demokrasi sosial ) dan karya lainnya. Soekarno dengan di bawah bendera revolusi ( kumpulan karangan ), pancasila dan lainnya. Syahrir dengan Perjuangan Kita. Semua itu menawarkan solusi untuk melepaskan Indonesia dari penjajahan. Puncak dari akumulasi multi-pemikiran adalah lahirnya Pancasila sebagai dasar negara. Meskipun dalam prosesnya mengalami perdebatan panjang.

Dari pemikiran-pemikiran itu, kerap pula terjadi perbenturan antar pemikiran, yang kadang menyebabkan ketersisihan di panggung politik. Sebagaimana perselisihan antara Soekarno dengan Syahrir, Soekarno dengan Hatta dan Syahrir dengan Tan malaka,  berujung pada konflik politik yang mengerikan.

Gen yang terhenti

Kekayaan khazanah pemikiran pendiri bangsa kita, ternyata terputus ditengah jalan. Tidak ada lagi generasi-generasi sekaliber mereka mampu menelurkan pemikiran-pemikiran yang berlian. Meskipun ada, itupun akan tergilas dengan zaman dimana suatu rezim yang berkuasa. Padahal kondisi bangsa kita masa itu secara ketertindasan ekonomi dan sosial tak jauh beda dengan kondisi sekarang.

Dinamika zaman yang tak terelakkan merupakan faktor penentu. Di mana infiltrasi pemikiran atau ideologi import tak terbendung lagi, menyebabkan perubahan paradigma berpikir yang cenderung berorientasi pada kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

Apakah keadaan ini merupakan bentuk transisi atau dekadensi intelektual generasi sekarang ? mengapa idealisme yang mereka peroleh begitu mudah dibeli demi kepentingan pragmatik-dekonstruktif? Ada apa dengan kita ?

Kesadaran historik yang terbenam

Pandangan kita mengenai sejarah, mempunyai pengaruh yang tegas terhadap masa depan bangsa dan negara kita. Sudah selayaknyalah kita menanyakan kembali pertanyaan tentang pribadi kita sebagai bangsa. Dari pertanyaan itu, mengharuskan kita melihat kembali ke belakang tentang akar-akar pertumbuhan dan perubahan yang kita alami serta mengali kembali warisan terbaik masa lampau.

Dalam kehidupan sekarang ini, kita merasa kehilangan pegangan dalam menghadapi persoalan-persoalan yang meliputi kehidupan kenegaraan dan kebangsaan kita. Ternyata sekarang ini, dalam menghadapi problematika-problematika itu kita tidak sama penangkapan, penghargaan serta reaksi baik secara emosional maupun secara tindakan. Malahan reaksi itu saling bertentangan. Kesatuan bangsa seolah-olah terpecah menjadi bagian-bagian tersendiri, yang satu lepas dari yang lain, kadang-kadang menurut garis kesukuan, kedaerahan, agama dan tradisi.

Siapakah kita ini, sebagai bangsa indonesia sebelumnya merasakan diri sebagai satu bangsa, sekarang nampaknya terpecah-belah dan tak kenal-mengenal lagi? Pedoman mana yang mesti kita ikuti dalam menghadapi segala bentuk persoalan yang baru muncul tanpa mengorbankan individu dan indentitas kita sebagai bangsa ?

Apakah yang mengikat kita menjadi satu bangsa dan bagaimana kita harus mengerti dan menempatkan perbedaan dan pertentangan di antara kita? Bagaimana sampai terjadi perpecahan dan krisis yang seolah-olah menguasai kehidupan kita sekarang ini, dimanakah akar-akarnya dan apa pula obatnya ?

Apakah kita sekarang terhanyut dengan arus perkembangan sejarah yang tak terbendung lagi? Jika ia, di manakah kita sekarang dan kemana kita dibawa? Jika tidak, dapatkah jalannya perkembangan ini kita kuasai dan ke arah mana harus kita membelokkannya ?

Penulis menyadari, langkah yang mesti kita lakukan dalam merevitalisasi semangat juang generasi muda yaitu: Menumbuhkembangkan kesadaran kesejarahan kita, kepekaan sosial, mengkaji dan menggali khazanah pemikiran masa lalu serta mengaktualisasikan dengan konteks kekinian yang akan berimplikasi pada konteks keakanan. Pemikiran-pemikiran pendiri bangsa masih sangat relevan untuk diimplementasikan sekarang ini. Karena kondisi bangsa-negara kita pada saat ini tak jauh berbeda dengan kondisi masa lalu. Terutama terkait dengan NEKOLIM.

Semua itu mampu kita hadapi, tergantung kesiapan mental dan intelektual kita dalam menghadapi dan menjalankannya.

( R ) EVOLUSI BELUM BERHENTI

MARI BUNG KITA REBUT KEMBALI !

Ditulis oleh Joko Arizal[1]

 


*Disampaikan dalam diskusi Madjid Politika pada hari Jumat, 18 November 2011 di ruang Granada Univ.Paramadina.

1 Penulis merupakan mahasiswa Falsafah dan Agama Univ. Paramadina dan Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan ( PSIK ) Paramadina.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: