Pemikiran Karl Raimund Popper “Liberalisme – Beberapa Tesis”

Karl Popper adalah salah satu tokoh yang sangat diagungkan dalam diskursus filsafat ilmu dan filsafat politik. Pada tahun 1934, ia menulis sebuah buku yang berjudul “the logic of scientific discovery”. Pada tahun 1940 – 1950-an, wacana mengenai sains luar biasa. Sebab, dalam 200 tahun terakhir terdapat berbagai macam temuan, baik dalam bidang astronomi, fisika sub atomik, kedokteran dan lain – lain. Penemuan-penemuan ini memberi pengaruh dalam bidang filsafat.

Pada dasarnya filsafat adalah mencari kebenaran. Pada abad pertengahan, kebenaran dalam filsafat masih banyak mengandung unsur agama, pengetahuan dan lain – lain. Di dunia modern, ledakan ilmu pengetahuan sejak abad ke – 16 melalui renaissance, revolusi Copernicus dan lain – lain. Revolusi Copernicus dapat merubah pandangan manusia dari pandangan geosentris menjadi heliosentris.

Revolusi Copernicus terlihat sederhana tetapi dapat mengubah cara pandang manusia manusia dalam pelbagai aspek,tidak hanya menyentuh pemahaman terhadap alam raya. Namun menyentuh aspek ketuhanan, keagamaan dan prilaku manusia. Dalam sistem geosentris (yang diperkenalkan oleh Tolemi) manusia sebagai pusat alam raya, bukan hanya menjadi pusat tata surya, atau pusat dalam galaksi bima sakti (men is the center of universe). Oleh karena itu salah satu filsuf di Yunani mengatakan bahwa men is a major of all things.

Dalam filsafat, perdebatan tentang kebenaran luar biasa. Ilmu pengetahuan yang baru awal abad ke – 20 itu dijadikan wacana atau diskursus dalam filsafat. Kalau dahulu filsafat sebagian didasarkan pada agama dan sebagian lain berdasarkan ilmu pengetahuan (logika), Karl Popper datang menawarkan formula di mana ilmu pengetahuan memiliki logika khusus, yang kemudian disebut sebagai “the logic of scientific discovery”.

Karl Popper mengatakan ilmu pengetahuan menarik kerena ada kemungkinan untuk salah, berbeda dengan agama yang tidak dapat salah ataupun disalahkan. Jika ingin mencari kebenaran, adalah suatu keniscayaan mempunyai landasan ke-ilmiah-an. Sebab, melalui landasan ilmiah bisa ditest benar salahnya pengetahuan. Ada satu istilah sangat menarik yang diperkenalkan Karl Popper, yaitu falsifikasi (dari asal kata false, keliru atau salah).

Ilmu pengetahuan—menurut Karl Popper—bergerak karena adanya falsifikasi, kalau tidak ada falsifikasi, ilmu pengetahuan tidak akan bergerak dinamis atau diam di tempat. Di dalam ilmu pengetahuan falsifikasi memberikan ruang mengkritik ilmu pengetahuan. Jika komunitas epistemik mengkritik satu pandangan atau satu teori dan argumennya disepakati karena ada data atau fakta yang lebih kuat, teori sebelumnya dianggap keliru dan teori itu runtuh.

Dalam ilmu pengetahuan, falsifikasi menjadi alat untuk merubah atau merevisi mindset lama menjadi mindset baru. Menurut Popper, jika ilmu pengetahuan semakin bisa disalahkan akan bertambah bagus karena ada dinamika di dalamnya. Keterbukaan untuk dikritik inilah yang membedakan ilmu pengetahuan dengan agama. Agama tidak boleh dikritik sehingga beku, seperti sebuah doktrin yang sudah ada ratusan tahun tidak akan berubah seiring dengan perjalanan ruang dan waktu.

Sementara buku Karl Popper tentang filsafat politik Open Society And Its Enemies . Kata Open Society kemudian diambil oleh George Soros untuk lembaganya yang bermarkas di New York (Soros adalah pengagum sekaligus penafsir utama pemikiran Popper). Soros dengan tegas mengaku banyak terinspirasi gagasan-gagasan Popper dan ia siap menjadi pembela utama pemikiran Poper. Sewaktu masih mahasiswa, Soros mereview buku Open Society and Its Enemies dan mengirimkannya ke Popper.

Karl Popper tergolong unik karena orang yang masuk ke dalam perdebatan filsafat sains biasanya tidak masuk dalam perdebatan filsafat (politik). Penjelasan kenapa ia tertarik terhadap filsafat karena injeksi nutrisi filsafat Plato, Aristoteles, dan filosof lain.

Beberapa tesis liberal yang ada dalam buku Liberalisme tidak diambil dari buku ini karena bahasanya sangat sulit untuk dikutip. Naskah dalam buku Liberalisme diambil dari sebuah makalah …..

Paling tidak, terdapat 8 poin liberalisme Karl Popper dalam buku Liberalisme,

negara adalah suatu kejahatan yang tak terhindarkan: kekuasaannya tidak boleh dilipatgandakan melebihi apa yang diperlukan. Kita bisa menyebut prinsip ini “pisau cukur liberal”. (Dengan analogi pisau cukur Ockham, yakni prinsip terkenal bahwa entitas atau esensi tidak boleh dilipatgandakan melebihi apa yang di perlukan).”

Pernyataan Popper ini merupakan pernyataan yang sangat kuat. Perkataan “Negara adalah suatu kejahatan yang tak terhindarkan”. Kenapa negara disebut oleh Popper jahat? Salah satu alasannya adalah karena negara merampas kebebasan individu.  Kebebasan individu dengan adanya negara terkurangi. Karena itu negara adalah suatu kejahatan. Tetapi, Negara adalah kejahatan yang “tak terhindarkan”. Kita tidak mungkin hidup tanpa negara.  Tidak mungkin kita hidup tanpa ada lembaga besar atau institusi yang mengatur.

Di dalam perdebatan filsafat politik kita memerlukan negara untuk menjamin keamanan dan hak–hak setiap warga. Karena itu tidak dapat dihindarkan, negara niscaya ada. “kekuasaannya tidak boleh dilipatgandakan melebihi apa yang diperlukan” . Jadi, pada dasarnya fungsi negara adalah memproteksi warga negara, memberikan perlindungan, layanan kesehatan, pendidikan dan hal lain yang fundamental. Pemangkasan kekuasaan Negara sesuai fungsi,oleh Ockham, kemudian disebut sebagai “pisau cukur liberal”.

Point kedua, “perbedaan antara sebuah demokrasi dan sebuah tirani adalah bahwa dalam sebuah demokrasi pemerintah dapat ditumbangkan tanpa pertumpahan darah; dalam sebuah tirani tidak bisa.” Ongkos yang paling mahal yang harus dikorbankan dalam system totalitarian adalah nyawa manusia. Untungtunya, peralihan kekuasaan dari Soeharto ke masa sekarang, banyak kerugian yang luar biasa. Untung karena kerugian ini tidak terlalu besar disbanding manfaat yang diperoleh. Ada kerusuhan Mei, pembunuhan, pemerkosaan dan yang lainnya. Apa ada alternative selain totalitarianisme? Ada yaitu demokrasi. Ongkos demokrasi memang mahal. Tetapi jika dikalkulasi keuntungannya, demokrasi menjadi murah.

Ketiga, “demokrasi itu sendiri tidak dapat memberikan keuntungan kepada warga Negara dan memang seharusnya tidak diharapkan demikian. Demokrasi hanya menyediakan kerangka yang di dalamnya warga Negara mungkin bertindak dalam suatu cara yang kurang lebih terorganisir dan koheren.”

Pernyataan ini,hemat saya, agak sedikit profokatif dengan mengatakan bahwa demokrasi tidak dapat memberi keuntungan. Namun pernyataan ini kemudian dijelaskan oleh pernyataan setelahnya, demokrasi hanya menyediakan kerangka untuk kita berpikir lebih sehat, lebih koheren dan lebih terukur. Untuk melakukan perubahan atau menjalankan rancangan, kita membutuhkan tempat yang mungkin kita ukur. Dan itu hanya mungkin dengan demokrasi.

Keempat, “kita adalah democrat, bukan karena mayoritas selalu benar, melainkan karena tradisi demokratis merupakan tradisi yang keburukannya kita ketahui paling sedikit. Jika mayoritas (public) membuat keputusan yang memihak tirani, seorang democrat tidak boleh lalu beranggapan bahwa suatu inkonsistensi fatal dalam pandangan-pandangannya telah terungkap. Sebaliknya, ia akan menyadari bahwa tradisi demokratis di negaranya tidak cukup kuat.”

Pernyataan di atas yang menjelaskan kenapa kapitalisme tidak kunjung mati. Kapitalisme salah satu sendinya adalah demokrasi. Kelebihan demokrasi disbanding yang lainnya karena demokrasi menyediakan apa yang disebut self correction. Jika ada kekeliruan dalam sebuah system, demokrasi memberikan kesempatan kepada public untuk mengoreksinya. Di dalam system lain hal ini tidak ada. Dalam system komunisme Soviet, Cina,Korea Utara atau yang lainnya, tidak terbuka kemungkinan untuk kritik.

Kapitalisme hidup di alam demokrasi. Ketika ada krisis ekonomi, semua orang teriak untuk memperbaikinya. Berbeda dengan krisis di Soviet, semua orang dibungkam untuk teriak. Yang terjadi bukan perbaikan justru pembusukan sehingga system ini runtuh pada tahun 1989. Sementara demokrasi tidak seperti itu. Setiap decade pasti ada krisis, baik local atau pun global. Dan fakta membuktikan krisis-krisis tersebut dapat dikoreksi dengan cepat.

Kelima, “lembaga saja tidak pernah memadai jika tidak ditopang oleh tradisi.” Saya agak ragu apa yang disebut Popper dengan tradisi. Saya berasumsi bahwa yang dimaksud tradisi adalah nilai-nilai yang berkembang di masyarakat yang bisa menjadi koreksi ketika terjadi penyelewengan. Parlemen itu kan perwakilan dari rakyat. Bagaimana jika parlemen itu keliru? Karena itu Popper mengatakan bahwa Negara saja tidak cukup jika tidak ditopang oleh tradisi.

Tradisi diperlukan untuk membentuk suatu jenis hubungan antara lembaga dan maksud- tujuan dan penghargaan atas tiap-tiap individu manusia. Saya berasumsi yang dimaksud tradisi adalah nilai-nilai yang bias memberikan perlindungan kepada individu. Contoh kongkritnya adalah Negara kita. Lembaga Negara yang diharapkan dapat memberikan perlindungan untuk segenap keyakinan individu ternyata gagal karena ada beberapa nilai yang tidak diadopsi Negara, niali-nilai kebebasan individu. Kasus Ahmadiyah, hak-hak minoritas tidak dilindungi Negara.

Keenam, “sebuah utopia liberal. Sebuah Negara yang didesain secara rasional berdasarkan suatu tabula rasa tanpa tradisi merupakan suatu kemustahilan.” Ini penjelasan dari point sebelumnya. Tabula rasa merupakan istilah yang diperkenalkan John Lock. Dalam bernagara tidak ada yang disebut tabula rasa karena Negara telah didasarkan pada pre-konsepsi-prekonsepsi.

Ketujuh,” …liberalism lebih merupakan suatu keyakinan evolusioner ketimbang revolusioner (kecuali jika ia dihadapkan dengan sebuah rezim tirani).” Orang liberal lebih mengutamakan negosiasi dari pada tindakan sarkastis.

Kedelapan, “yang kita anggap paling penting adalah apa yang mungkin bias kita sebut “kerangka moral” (yang berhubungan dengan “kerangka legal” kelembagaan) sebuah masyarakat.” Poin terakhir ini adakah kerangka untuk Negara liberal. Popper membedakan dua hal, kerangka moral dan kerangka legal. Dalam filsafat biasanya, moral itu lebih tinggi dari legal. Keputusan moral biasanya keputusan individual. Keputusan legal itu keputusan institusional.

Jika anda mencuri misalnya, sebelum mencuri terjadi pertarungan dalam akal kita. Ketika anda memutuskan tidak mencuri karena mencuri itu jelek, ini yang disebut kerangka moral. Namun ketika anda tidak mencuri karena takut akan hukuman, cara berpikir anda adalah kerangka legal. Sebetulnya, melalui kerangka legal, kehidupan tetap berjalan. Semakin banyak aturan dan hukum, semakin goblok masyarakat. Seharusnya yang dikedepankan adalah kerangka moral. Nah, Negara minimal hendak mengembalikan kesadaran manusia akan pentingnya kerangka moral. Sedang Negara maksimal dibangun oleh kerangka legal.

Pembicara : DR. Luthfi Assyaukanie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: