Argumen Ludwig Von Mises tentang Liberalisme

“Liberalisme tidak pernah diidzinkan untuk berjalan sepenuhnya. Namun, meski supremasi gagasan-gagasan liberal tersebut singkat dan sangat terbatas, hal itu cukup mampu mengubah wajah dunia. Suatu pertumbuhanaa ekonomi yang luar biasa terjadi. Terbukanya kekuatan produktif manusia sangat melipatgandakan sarana-sarana untuk bertahan hidup.”

—Ludwig Von Mises—

Ludwig Von Mises adalah ekonom, filsuf, dan penulis liberal klasik yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pasar bebas. Menurutnya, pasar bebas penting karena akan memanjakan konsumen sebagai bukti kongkrit adanya kompetisi. Menurut Mises, sosialisme gagal karena ketidakmungkinan pemerintahan sosialis untuk menghitung ekonomi yang dibutuhkan untuk mengatur ekonomi yang kompleks.

Liberalism—menurut Mises—tidak bisa berjalan secara penuh. Program-program liberal banyak tidak dapat dijalankan. Bahkan di Inggris yang dikenal sebagai kampung halaman liberal. Lawan-lawan liberalisme pada abad ke 19 menyapu habis liberalisme. Di luar Inggris,tambah Mises, liberalisme dilarang secara terbuka pada masa itu. Meski demikian, liberalisme telah dapat memberi sumbangan positif bagi kemajuan peradaban manusia. Kesejahteraan yang dihasilkan berkat liberalisme telah mengurangi angka kematian bayi dan mampu memperbaiki kualitas hidup dibanding sama-masa sebelumnya.

Mises menuturkan bahwa kualitas hidup yang diraih tidak hanya berkutat pada kaum elit semata, tapi menembus akses ke semua penduduk. Bahkan, para pekerja, tentara Perang Dunia ketika itu dapat merasakannya,dibuktikan dengan pendidikan yang diberikan kepada anak-anak mereka jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

Adalah keberhasilan kaum liberal menciptakan dunia tanpa sekat, jauh dari diskriminasi etnis, agama, dan kebangsaan. Semua manusia setara. Penganiayaan karena agama dan politik identitas mulai jarang terjadi. Dan kaum optimis kemudian menyuarakan fajar perdamaian abadi. Memang harus diakui, diskriminasi karena agama dan identitas belum sepenuhnya berhasil dihapuskan.

Liberalisme memusatkan perhatian pada kehidupan manusia di dunia. Kritik anti-liberal, sebagimana diulas Mises adalah absennya perhatian liberalisme bagi dimensi terdalam kehidupan manusia. Manusia tidak hanya membutuhkana makanan dan minuman an sich. Tetapi juga membutuhkan dimensi spiritualitas. Jawaban Mises atas kritikan ini benar-benar membuat penulis terkejut. Ia mengatakan bahwa kritikan mereka memperlihatkan bahwa mereka mempunyai konsepsi yang tidak sempurna dan juga terjebak kepada dimensi materi.

Kebijakan sosial berfungsi menjadikan orang miskin atau kaya berdasarkan sarana yang ada padanya. Orang miskin menjadi kaya, yang tidak berpakaian mendapat sandangan pakaian, yang kelaparan bisa makan dan minum. atau sebaliknya.

Fokus liberalisme pada kesejahteraan duniawi manusia—lanjut Mises—  bukan untuk menghinakan dimensi spiritualitas,tetapi karena kayakinan kaum liberal bahwa apa yang tertinggi dan paling dalam pada diri manusia tidak bisa disentuh oleh regulasi duniawi. Kebahagiaan bukan karena pakaian, minuman atau tempat tinggal. Tapi terletak pada apa yang dihargai manusia dalam dirinya. Liberalisme memfokuskan diri pada kesejahteraan dunia karena tahu bahwa kekayaan spiritual dan jiwa tidak akan sampai kecuali berangkat dari dalam hatinya sendiri. Singkatnya, liberalisme tidak menolak dimensi spiritual. Namun ia hanya fokus pada kesejahteraan duniawi

Liberalisme tidak untuk golongan atau komunitas tertentu sebagaimana kritikan lawan-lawannya. Tujuan liberalisme untuk semua. Argument Mises sungguh baik dalam konteks ini. Salah satunya, kaum anti-liberal hanya menandaskan kejelekan kepada liberalisme tanpa melihat betapa makanan, minuman dan pakaian yang diperoleh dengan mudah dan murah akibat adanya kompetisi. Kejelekan sengaja disematkan pada liberalisme karena mereka tahu akan kekurangan diri mereka sendiri. Memang liberalisme tidak kemudian absen dari kekurangan. Namun, liberalisme terbuka dengan kritik sehingga mampu memperbaiki dirinya sendiri.

Argument kedua Mises adalah bahwa kapitalisme hanya mempunyai satu jalan, yaitu berupaya menghadirkan produk terbaik bagi masyarakat. Artinya, para pengusaha kapitalis tidak akan menuai keuntungan jika tidak mampu memeberikan produk terbaik bagi masyarakat selaku konsumen. Sebab, mereka tahu mana yang berkualitas dan tidak. Dan mereka bebas menentukan pilihan dalam membeli barang tertentu atau tidak. Hanya produk yang secara kualitas baik yang akan mereka pilih.

Abd. Rahman, Direktur Madjid Politika

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: