Pertamina Terganjal di Blok West Madura

INILAH.COM – Kisruh siapa yang bakal mengelola Blok West Madura menimbulkan beragam pertanyaan. Pertamina yang sejak awal sudah menguasai saham blok ini dan berniat mengelolanya seperti diganjal. Ada apa?

Demikian kesimpulan yang muncul dalam seminar terbatas “Blok West Madura: Dimana National Interest Kita?” yang diselenggarakan Madjid Politika Universitas Paramadina, di Jakarta, Rabu (27/4).

Para panelis forum itu adalah Minton Pakpahan MSc (anggota DPR Komisi VII), Vice President Komunikasi Pertamina Ir Mohamad Harun dan Herdi Sahrasad, peneliti ekonomi-politik Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, dengan moderator Adi Prayitno, aktivis LSM dan mahasiswa S-2 Fisip UI.

“Sesuai UU dan logika publik, blok West Madura sebaiknya diberikan kepada Pertamina untuk mengelolanya. Pertamina sudah memintanya sejak dua tahun lalu,” tutur anggota DPR Minton Pakpahan.

Para pembicara mengingatkan, pengelolaan Blok West Madura di Jawa Timur sempat menjadi silang sengketa antara Pertamina, Kementerian ESDM dan pihak lain yang juga berambisi menguasai blok itu. Blok West Madura terdiri atas lapangan minyak dan gas bumi di lepas pantai Jawa Timur.

Hingga kini belum ada kepastian tentang pengelolaan blok itu. Akibatnya produksi minyak Blok West Madura terus menurun dari sebelumnya 19 ribu barel menjadi 14 ribu barel per hari. Sementara produksi gasnya mencapai 92 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Kontrak Blok West Madura diteken pada 7 Mei 1981 dengan porsi kepemilikan saham PT Pertamina 50%, Kodeco Energy Co Ltd 25% dan China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) Madura Ltd 25%. Kontrak berakhir pada 6 Mei 2011.

Namun, sebelum kontrak habis, Kodeco mengalihkan separuh sahamnya kepada PT Sinergindo Citra Harapan. Begitu pun CNOOC, yang menyerahkan setengah saham ke Pure Link Investment Ltd. “Akhirnya komposisi kepemilikan berubah menjadi Pertamina 50%, Kodeco 12,5%, CNOOC 12,5%, Sinergindo 12,5% dan Pure Link 12,5%,” ujar Minton Pakpahan.

Para panelis sependapat bahwa masalah Blok West Madura Offshore adalah persoalan penting yang semestinya ditanggapi secara serius oleh berbagai elemen, khususnya civil society yang dapat mengawal perubahan bangsa ke arah yang lebih baik.

“Publik bertanya, kenapa pemerintah malah menyetujui pengalihan hak partisipasi kedua perusahaan yang belum diketahui pengalamannya. Lalu apa kehebatan dua perusahaan itu dibandingkan Pertamina?,” tambah Herdi Sahrasad, peneliti ekonomi-politik Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina.

Dalam konteks pengelolaan Blok West Madura, Pertamina menyesalkan pernyataan berbagai pihak yang terkesan meragukan kemampuan badan usaha milik Negara itu. Pertamina selama ini sudah mampu mengelola blok dengan karakteristik sama dan bahkan lebih besar dibandingkan West Madura yakni Ofshore North West Java (ONWJ).

Dalam diskusi itu, melalui juru bicaranya, Mochamad Harun, Pertamina menyatakan sanggup sebagai pemegang saham mayoritas dan siap menjadi operator agresif. Bahkan, Pertamina menawarkan target produksi di Blok West Madura hingga 30-40 ribu barel per hari. “Jika kami mendapat dukungan pemerintah dan publik, kami siap dan mampu sekali, semua bisa terukur dan transparan,” kata Harun.

Fenomena isu pengalihan saham Kodeco Energy Ltd dan China National Oil Offshore Corporation kepada dua perusahaan lokal, PT Sinergindo Citra Harapan dan Pure Link Investment patut ditanggapi secara serius. Berbagai pihak menengarai, ada pelanggaran terhadap hukum.

Pengalihan saham di tengah masa terakhir berakhirnya kontrak mengandung muatan politis yang cukup signifikan, yang mengundang sikap kritis dari DPR, masyarakat dan dunia usaha.

Pengalihan saham dua perusahaan, Kodeco Energy Ltd dan CNOOC yang masing-masing berubah dari 25% menjadi 12,5 % kepada dua perusahaan lokal itu seharusnya tidak begitu saja disetujui pemerintah. Sebab, pemerintah membutuhkan investor hulu migas (aktivitas pertambangan yang berhubungan dan eksploitasi dan eksplorasi) yang benar-benar kredibel.

Kesan skeptis terhadap Pertamina patut dikoreksi dan disorot secara serius. Sebab, dalam lima tahun terakhir Pertamina menuai prestasi penting. Salah prestasi tersebut adalah Blok Limau di Sumatera Selatan.

Sejak diakuisisi pada 2007 dari perusahaan Kanada, Talisman Energy, Pertamina berhasil meningkatkan produksinya dari 5.300 barel menjadi 11.300 per hari. Pertanyaan yang cukup penting yang pantas diajukan, di mana nasionalisme pertambangan kita? Seberapa besar intervensi asing untuk menggaruk kekayaan Indonesia?

Konklusinya adalah bahwa jika West Madura tidak diserahkan pengelolaannya 100% kepada Pertamina itu sudah kerugian besar bagi bangsa Indonesia. Artinya Pertamina siap menjadi pelaku di sektor hulu migas melakukan eksplorasi dan eksploitasi untuk menemukan cadangan-cadangan minyak dan gas baru sekaligus meningkatkan produksi. [mdr]

Sumber : http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1459152/pertamina-terganjal-di-blok-west-madura diterbitkan pada hari  Kamis, 28 April 2011 | 04:31 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: