Menggali Pengalaman Politik Wimar

Perspektif Online
22 May 2011
Dede Kurniawan, seorang mahasiswa Hubungan Internasional dari Universitas Paramadina banyak mengamati pola kegiatan politik masa lalu yang membentuk kultur politiik masa kini dan membentuk masa mendatang. Sudah lama Wimar Witoelar menjadi obyek perhatian Dede yang sering berdialog melalui twitter dengan nama @dekurisme. Karena Wimar memahami kegunaan menjawab pertanyaan Dede Kurniawan untuk menambah pengertian politik, maka Perspektif Baru menyetujui tampilnya Wimar bukan sebagai pemandu tetapi menjadi narasumber. Format “reverse interview’ pernah digunakan beberapa kali pada saat PB merasakan manfaatnya untuk menambah pada dialog publik.
Wimar Witoelar menjawab beberapa pertanyaan masyarakat mengenai dirinya termasuk pilihannya tidak masuk ke dalam partai politik hingga kini. Dulu, pada 1966 dia memang termasuk yang ikut giat dalam restrukturisasi Golkar, dan pada 1998 ikut aktif dalam Majelis Amanat Rakyat (MARA) yang kemudian melahirkan Partai Amanat Nasional (PAN). Namun Wimar memilih tidak bergabung di kedua partai tersebut dan hingga kini tetap berada di luar partai politik.Wimar tidak mengecilkan kegunaan partai , tapi kebetulan merasa lebih efektif dalam peran luar patai. Memang dalam posisi luar dia tidak memiliki dana politik dan sarana aktivisme. Akan tetapi untuk memberikan suara dalam dialog masyarakat, Wimar merasa beruntung lebih punya suara sebagai individu daripada sebagai anggota partai. Berikut wawancara Dede Kurniawan dengan Wimar Witoelar. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat pula dilihat pada situs http://www.perspektifbaru.com. Lewat situs tersebut Anda dapat memberikan komentar dan usulan.
Anda adalah salah satu tokoh Reformasi 1998, dan pada saat itu ada gerakan bernama Majelis Amanat Rakyat (MARA). Apa itu MARA  dan mengapa seorang Wimar Witoelar bergabung di MARA? 
 Itu pertanyaan yang baik. Sampai sekarang tidak banyak yang bertanya pada saya tentang MARA. Padahal MARA itu penting karena dia bibitnya Partai Amanat Nasional (PAN). Saya aktif di MARA sampai PAN terbentuk, tapi saya memutuskan untuk tidak ikut masuk PAN. Kalau saya disebut tokoh Reformas,  itu ucapan orang lain. Saya tidak merasa tokoh walaupun memang saya aktif dalam kegiatan yang mengubah keadaan. Tahun 1998 bukan pertama kali saya aktif, Pertama kali saya ikutan gerakan reformasi pada 1966, sehingga saya pernah disebut sebagai anggota angkatan 1966. Pada hakekatnya saya sangat senang mengikuti perkembangan politik kemasyarakatan, dan merasakannya sebagai kebutuhan. Akan tetapi saya tidak punya kesabaran untuk mengikutinya secara rutin melalui partai atau organisasi. Kalau ada keadaan ekstrim yang memerlukan tanggapan yang jelas mengenai benar dan salah, maka saya terpanggil untuk ikut membantu mahasiswa.  Sebelum 1998, saya keliling ke kampus-kampus  di Jakarta dan kota-kota lain atas undangan mahasiswa untuk mengutarakan pendapat saya mengenai perlunya Soeharto diganti. Saya menjalankan banyak kegiatan orasi di lapangan bersama Amien Rais sejak berkenalan pada tahun 1996 dalam acara saya ini yaitu Perspektif Baru. Katanya ini  adalah acara publik  pertama  yang melakukan wawancara politik tentang sikap Amien Rais menentang Soeharto. Saya datang ke kantor pusat  Muhamadiyah, lalu saya mewawancarai dia. Orang-orang bertanya mengapa mewawancarai Amien Rais, katanya dia orang ekstrim. Saya menjawab bahwa saya tidak melihat orangnya tapi melihat pesannya. Dia satu-satunya orang yang terkenal pada tingkat nasional yang mengatakan bahwa Soeharto sudah saatnya diganti. Kami sering muncul bersama di Bandung dan Jakarta, dan kadang-kadang bersama Faisal Basri.
Suasana  memuncak setelah Peristiwa Trisakti pada 14 Mei 1998 dalam serentetan peristiwa  pembakaran toko dan pelanggatan hak azasi yang dituduhkan pada Jendral Prabowo dan Jendral Wiranto. Sampai saat ini keduanya belum menjelaskan keterlibatan meeeka. Pada waktu itu,  kawan-kawan sering berkumpul di suatu rumah yang menjadi markas untuk mendukung mahasiswa. Dukungannya kongkrit yaitu memberikan nasi bungkus dan logistik lain. Seperti Anda tahu, waktu itu mahasiswa berdemo dan berkumpul  di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), kampus Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, kampuis Salemba Universitas Indonesia (UI) dan lainnya.  Sudah tradisi sejak kegiatan mahasiswa 1966, berkumpul dan   menunggu dikirim nasi bungkus. Teman-teman di tahun 1998 menyiapkan nasi bungkus untuk mahasiswa. Ketika kemudian makin banyak mahasiswa  yang demonstrasi, kita malah menjadi distributor nasi bungkus. Siapa yang mau menyumbang bisa langsung setor. Saat itu saya nongkrongdi sebuah rumah di Jakarta untuk memantau keadaan, sebab semua berita sampai di sana. Rumah tersebut milik Arifin Panigoro,  pengusaha minyak dan teman sekelas saya di Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Aburizal Bakrie yang juga teman sekelas. Namun Aburizal Bakrie tidak ikut di situ. Saya bersama Arifin dan kawan-kawan mengikuti keadaan. Bahkan sewaktu suasananya makin ramai, kami didatangi wartawan televisi untuk memberikan pesan agar masyarakat tetap diam dan tidak membuat kerusuhan.
Di tengah-tengah keadaan itu, orang mulai berkumpul untuk membuat deklarasi mendukung gerakan mahasiswa dan mendukung reformasi. Salah satu yang saya sambut baik isi teks deklarasi Majelis Amanat Rakyat (MARA). Mendengar ada rapat MARA, Arifin mengajak saya untuk bergabung. Lalu saya berangkat ke MARA tapi ketika itu di jalan banyak bakar-bakaran dan timpuk-timpukan, sehinga saya sampai ke lokasi terlambat dan konferensi pers sudah selesai dan deklarasi sudah ditandatangani. Jadi dalam dokumentasi tidak ada nama saya, walaupun saya ikuti banyak rapat di Jalan Cemara nomor 6 itu. Boleh tanya pada saksi-saksi di situ.
Nama-nama orang yang menandatangani MARA dan kemudian mendirikan Partai Amanat nasional (PAN) sangat beda dengan orang-orang PAN sekarang. Saat itu ada Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Christianto Wibisono, Faisal Basri dan Albert Hasibuan. PAN adalah partai yang paling pluralis. Ada Amien Rais, Dawam Rahardjo, Nurcholish Madjid. Mereka aliran politik Islam, tapi Islam pluralis dan moderat. Lalu ada Toeti Heraty Noerhadi yang meminjamkan Galeri Cemara di Menteng. Diskusi berjalan selama beberapa hari. Kemudian gerakan itu memutuskan untuk membuat partai dan terjadilah peluncuran. Orang yang mengorganisir gerakan politik, ada saja uangnya. saya tidak tahu dari mana. Ada yang menyumbang untuk sewa Istora Senayan dan membuat bendera. Saya ikut rapatnya ketika membahas warna partai, ide kami diterima untuk tidak menggunakan warna merah karena sudah menjadi simbol partai nasionalis. Dan jangan menggunakan warna hijau sebab itu warna partai Islam. Lalu kita sepakat menggunakan warna biru. Waktu itu saya sering hadir dengan Hani Hasyim, dia adalah pendamping saya dan sebagai General Manajer InterMatrix. Ide kita tidak hebat-hebat tetapi melekat. Misalnya simbol PAN seperti matahari. Peluncuran partai itu kesempatanb terakhir kali saya ikut PAN dan di situ teman-teman InterMatrix ikut, menyumbang pada konsep warna dan konsep upacara.  Sesudah itu saya menjadi sahabat PAN. Kalau Amien Rais sedang konferensi pers dengan wartawan asing, saya ikut menjadi pemandu dan  penerjemah. Ada Pak Santoso Wakil Sekjen PAN yang sangat dekat dengan kami. Kemudian dia mendirikan Kantor Berita Radio (KBR) 68H. Banyak teman-teman dari PAN yang sekarang ada dimana-mana.
Dengar-dengar pada 1966 Anda juga ikut mendirikan Partai Golongan Karya (Golkar), tapi mengapa Anda tidak ikut di Golkar?Saya mengatakan ikut mendirikan karena ingin sombong saja. Padahal yang mendirikan lebih dari 3.000 orang. Juga bukan mendirikan melainkan melakukan pembaruan struktur dan mengusulkan nama-nama untuk menjadi anggota DPR. Golkar adalah kumpulan organisasi. Nah, saya mewakili organisasi mahasiwa karena saya Ketua Presedium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Jadi saya ikut menyetujui dimanfaatkannya wadah Golkar untuk menetralisir partai-partai. Kami anggap partai terlalu ideologis, dan agamis dengan adanya partai Islam atau partai Kristen. Waktu menyusun daftar calon anggota DPR, saya ikut menyusun daftar calon mahasiswa bersama senior-senior saya yang berpengalaman politik. Saya juga berkeliling membujuk orang untuk  masuk politik. Saya menganjurkan mereka masuk dan saya sendiri masuk daftar dengan nomor bagus. Tapi sebelum daftar itu diresmikan, saya bertemu dengan seseorang yang mengubah hidup saya yaitu calon istri saya. Saya tinggalkan semuanya dan pergi ke Amerika Serikat lalu sekolah. Saya tidak resmi anggota Golkar tapi mendukungnya sampai awal tahun 70an. Saya juga tetap berteman dengan mereka dan dijanjikan menjadi calon Golkar di Pemilu kedua pada 1977  setelah selesai studi di Amerika. Tapi selama di Amerika, saya menyadari bahwa kita mengarah pada  rezim militer dan rezim yang korup. Karena tidak mau ikut atau melawan, saya memilih menjadi dosen. Kembali ke  kampus ITB sebagai dosen, saya bukan anggota DPR 1978, malah sewaktu mereka bersidang saya malah ditangkap dan masuk tahanan politik. Jadi memang di situlah hidup politik saya beralih.

Anda unik karena ikut mendirikan Golkar tapi tidak masuk Golkar. Kemudian pada 1998 ikut mendirikan PAN tapi tidak ikut PAN, justru malah membuat Partai Orang Biasa dan aktif di situ. Mengapa waktu itu Anda tidak ikut di PAN?Saya bisa menjelaskan secara ideal, tapi saya malas bohong, jadi saya cerita seadanya. Secara pribadi, saya lebih efektif di luar partai daripada di dalam. Sekarang bukan anggota partai, tapi  saya merasa lebih efektif daripada banyak anggota partai. Perbedaannya, mereka punya dana p;oliti, saya tidak. Sedangkan dari segi yang saya inginkan yaitu bersuara dalam masyarakat, saya beruntung selalu lebih punya suara sebagai individu daripada sebagai anggota partai. Sekarang pun saya ikut mendirikan gerakan yang barangkali akan menjadi partai yaitu SMI-Keadilan (Solidaritas Masyarakat Indonesia-Keadilan), tapi saya tidak akan menjadi pejabat partai.

Golkar lahir di rezim Orde Baru. Kalau kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Saat Reformasi 1998 ada tuntutan agar Soeharto turun dan Golkar dibubarkan. Namun hingga kini Golkar tidak dibubarkan. Mengapa Golkar tidak dibubarkan? Bagaimana menurut Anda sebagai saksi sejarah?
Saya termasuk orang yang meminta Golkar dibubarkan, tapi diingatkan orang bahwa itu salah karena kita tidak bisa membubarkan partai, Partai Komunis Indonesia (PKI) saja jangan dibubarkan. Golkar harus bubar sendiri, tenggelam dalam lumpur, atau terbelit pajak. Jadi kita tidak ada hak membubarkan Golkar. Saya ingin Golkar tidak ada, tapi tidak bisa membubarkannya. Mengapa Golkar ada terus? Karena dia lebih pintar dari kita semua. Orang Golkar itu terlatih berpolitik. Saya tahu karena saya dekat dengan pribadi-pribadi Golkar di luar kelompok sekarang seperti Akbar Tandjung, Marzuki Darusman, Rachmat Witoelar dan Sarwono Kusumaatmadja. Mereka dan junior-juniornya sangat terlatih dalam politik, sangat kuat dalam infrastruktur walaupun tidak menerima bantuan dari pemerintah, tapi dulu semuanya dari pemerintah. Waktu dikira mau bubar, banyak yang pindah, ada yang pindah ke PDI-P, PAN, ada juga yang pindah ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tapi begitu Golkar tumbuh, mereka banyak kembali. Sekarang banyak sekali orang berperan di Golkar secara oportunistik. Satu-satunya partai yang tidak oportunistik adalah Partai Orang Biasa (POB).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: