Kampanye dan Konsultan Politik

Detik.com – Kampanye politik tidak ada bedanya dengan sebuah adegan drama yang dipentaskan oleh para aktor-aktor politik, tulis Richard A. Joslyn (dalam David L. Swanson dan Nimmo, (ed.), New Directions in Political Communication: A Resource Book, 1990).

Bagaimana jika pernyataan Joslyn itu disandingkan dengan beberapa pernyataan tokoh politik di dalam kampanye partai-partai politik di Indonesia baru-baru ini?

Kampanye Partai Demokrat di Gelora Bung Karno dengan juru kampanye (jurkam) Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sejumlah capaian pemerintahan yang dipimpinnya. Ia menyampaikan bahwa keamanan dan stabilitas di seluruh Indonesia terus membaik.

SBY juga menyampaikan empat kesuksesan lain pemerintahannya dalam bidang penegakan hukum, termasuk pemberantasan korupsi, majunya perekonomian, perbaikan kesejahteraan rakyat dan dihargainya Indonesia di dunia Internasional.

Di tempat yang berbeda, kampanye PKS di Lapangan Widya Karya Jakarta Timur. Presiden PKS, Tifatul Sembiring, menyatakan bahwa Pemilu 2009 adalah kesempatan terakhir bagi politisi senior sehingga pada Pemilu 2014 nanti yang muncul adalah tokoh muda. Sejak sekarang PKS memunculkan calon pemimpin di bawah usia 50 tahun.

Sementara di Jember, Jawa Timur, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri meminta rakyat bisa membandingkan mana emas dan loyang saat memilih pemimpin dalam pemilu.

Pernyataan Joslyn di atas sangatlah tepat. Kampanye politik adalah suatu peristiwa
yang didramatisasi. Pernyataan yang disampaikan, baik oleh SBY, Tifatul Sembiring,
ataupun Megawati di atas, merupakan dramatisasi peristiwa agar menarik perhatian
audiens sebagai calon pemilih (konstituen).

Kampanye politik merupakan suatu usaha yang dikelola oleh suatu kelompok (agen perubahan) yang bertujuan untuk membujuk target sasaran agar dapat menerima, memodifikasi, atau membuang ide, sikap dan prilaku tertentu.

Kampanye politik ibarat make up seorang tata rias wajah. Sang perempuan akan menjadi lebih menarik setelah sentuhan-sentuhan make up memoles wajahnya. Penampilan menarik sang perempuan merupakan keberhasilan sanpeñata rias.

Demikian pula dengan para tokoh dan partai politik. Mereka akan menjadi lebih menarik ketika kampanye dikemas dengan baik. Namun kemudian timbul sebuah pertanyaan, siapakah ”penata rias” kampanye partai politik dan tokoh tersebut?

Spin Doctor

Dalam praktiknya, tidak sedikit kampanye politik yang dilakukan menemui kegagalan.
Akan tetapi banyak juga yang mengalami keberhasilan, karena dirancang dengan baik
oleh seorang ahli yang berperan sebagai spin doctor.

Pada mulanya, istilah spin doctor lebih dikenal dalam dunia kampanye politik sebagai
konsultan public relations politik. Konsultan ini bertugas membangun image (citra)
politik bagi kliennya (biasanya seorang politisi tertentu). Sedangkan tugas yang
lainnya adalah memberikan kesan negatif pada saingan politik kleinnya. (Handayani,
2005).

Profesi konsultan public relations politik atau biasa disebut juga press agent atau publicist awalnya dikembangkan oleh sepasang suami-istri Cleam Whitaker
dan Leon Baxier di Los Angeles AS pada tahun 1933 dengan nama Campaign Inc.

Istilah PR konsultan politik ini digunakan sampai tahun 1984, setelah tim kampanye
Ronald Reagan menggantikannya dengan istilah spin doctor. McNair dalam bukunya An Introduction to Political Communication (2003) mendefinisikan spin doctor sebagai
individu yang memiliki kemampuan menguasai publik, menggerakkan massa dan menguasai media, sekaligus sebagai konseptor politik yang bertujuan memengaruhi.

Spin doctor berada pada posisi tengah antara politisi yang akan dipromosikan (dipasarkan) olehnya dengan para jurnalis media yang akan mempromosikannya. Dengan demikian, banyak pihak yang menilai bahwa profesi spin doctor yang biasa digunakan oleh para politisi merupakan suatu keahlian di bidang komunikasi yang menggabungkan prinsip-prinsip public relation (kehumasan), advertising (periklanan), dan marketing (pemasaran) (Changara, 2009).

Salah seorang spin doctor terkenal dalam pemerintahan Reagan adalah Michael Deaver. Peristiwa tertembaknya Reagan 1981 merupakan awal pembuktian Deaver sebagai spin doctor cerdas. Di tengah suasana ketidakpastian, Deaver mengundang para wartawan dan juru kamera untuk menjenguk sang presiden. Deaver ingin memberikan sinyal kepada dunia bahwa Reagan akan segera membaik, dan tugas kenegaraannya masih sanggup dilaksanakan.

Melalui sorot kamera televisi, Reagan tampak tengah menandatangani beberapa rekening dan surat-surat penting lainnya. Deaver ingin menampilkan Reagan saat itu beraksi lebih bersinar dari aktor-aktor Holywood di televisi. Di sini Deaver mencoba mengubah opini masyarakat sekalipun mungkin dengan cara pseudo event (peristiwa yang pura-pura terjadi).

Di Indonesia sendiri spin doctor lebih banyak dikenal dengan istilah manajer kampanye, lembaga pemenangan pemilu atau konsultan politik. Lembaga-lembaga ini
biasanya bertugas menentukan pengarahan opini publik dalam pencitraan kandidat.

Lembaga ini menggunakan semua jalur komunikasi untuk membangun citra politik
kliennya dengan membentuk dan mengarahkan opini guna memengaruhi publik dan
memenangkan pemilihan. Dengan menggunakan media komunikasi dalam pembentukan opini publik tersebut, spin doctor sesungguhnya tengah merekayasa cara-cara pemaksaan dalam kampanye menjadi sebuah bujukan (Etman dalam Louw, 2005).

Peranan Spin doctor tidak hanya berdiri antara parpol dengan media, tetapi memiliki peran yang sangat penting dan menentukan dalam kancah pertarungan kekuasaan politik.

Menjelang pemilu 2009 ini, partai politik dan para politisi disuguhkan oleh banyak
pilihan lembaga-lembaga konsultan politik. Sebutlah Lembaga Survei Indonesia,
Lingkaran Survei Indonesia, P2P LIPI, dan Reform Institute adalah beberapa contoh
dari sekian banyak lembaga konsultan politik yang bermunculan di Indonesia.

Hasil di pemilu legislatif dan presiden 2009 nanti akan menjadi bukti, siapakah konsultan politik terbaik di Indonesia?

*) YANDI HERMAWANDI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: