Arti Penting Gagasan Liberal: Diskusi Awal Seri Diskusi Liberal bagi Mahasiswa

Kedai Kebebasan –  Mendalami dan memahami sebuah ide merupakan suatu hal yang penting bagi sebuah masyarakat, terlebih bagi kalangan muda atau mahasiswa. Ide tentang kebebasan dan individualisme merupakan sebuah gagasan baru bagi kebanyakan mahasiswa. Kaum muda di kampus lebih gandrung terhadap pemikiran kiri atau sosialisme, yang dianggap lebih membela kepentingan rakyat.

Gagasan inilah yang menjadi latar belakang serial diskusi mahasiswa yang diorganisir oleh Madjid Politika, sebuah kelompok studi mahasiswa di Paramadina University, Jakarta, Indonesia, yang bekerja sama dengan Freedom Institute, think tank Liberal yang menjadi partner Friedrich Naumann Stiftung Indonesia. Diskusi tersebut akan berlangsung selama 10 kali, membahas artikel-artikel yang ada didalam buku Liberalism, yang disunting oleh Detmar Doering, yang diterbitkan oleh FNS dan Freedom Institute, berisi gagasan-gagasan klasik pemikir Liberal seperti Karl Popper, Ludwig von Mises, Hayek, Bastiat, Adam Smith, dan lain sebagainya. Diskusi ini melibatkan mahasiswa-mahasiswa Universitas Paramadina dan beberapa mahasiswa lain yang dating dari kampus universitas swasta di Jakarta. Diskusi pertama yang diadakan pada tanggal 30 April 2010 membahas mengenai Karl Raimund Popper dan gagasannya mengenai Liberalism serta masyarakat bebas.

Rainer Heufers, Resident Representative Friedrich Naumann Stiftung Indonesia, yang hadir membuka diskusi pertama mengatakan, banyak orang yang mengabaikan sebuah gagasan. Namun sesungguhnya kita banyak dealing dengan berbagai keputusan yang terkait dengan dan didasari oleh sebuah ide. Perdebatan tentang perlu adanya subisidi atau tidak, perlu lebih banyak social security atau tidak, semuanya didasari oleh sebuah gagasan atau ide.

Sosialisme acapkali menjadi favorit dan sebuah mode. Namun jadi karena kita tidak tahu secara jelas bagaimana gagasan tersebut diterapkan di negara-negara yang menganutnya, di China misalnya. Sebelum ekonomi pasar diterapkan di China, rakyat merasa tidak senang dengan system ekonomi yang diterapkan, karena kontrol pemerintah sangat besar dan mengatur apa yang harus dilakukan oleh masyarakat. Segala sesuatu diperoleh dengan mekanisme tiket/kupon yang diatur oleh negara. Korupsi merebak, karena jika kita ingin mendapatan lebih maka pegawai pemerintah dengan jalan gelap dapat memberikan, dengan imbalan beli, kupon-kupon antrian makanan yang kita inginkan.

Kontrol besar negara menyebabkan masyarakat menjadi lemah dan membuka peluang munculnya korupsi. Gagasan ini yang agaknya coba diantisipasi oleh Popper sebelumnya, dengan memunculkan gagasan mengenai open society.Sebuah masyarakat yang terbuka dan bebas, dengan sedikit peran negara. Menurut Popper negara merupakan sebuah kejahatan yang tak bisa dihindari. Gagasan Popper ini, menurut Luthfi Assyaukanie, Freedom Institute, yang diterjemahkan oleh George Soros, murid terkemuka Popper, yang kemudian mendorong pendidikan masyarakat tentang arti penting sebuh masyarakat yang terbuka dan demokratis.

Muhammad Husni Thamrin

Program Officer Friedrich Naumann Stiftung Indonesia

 

Sumber : http://fnsindonesia.org/v2/article.php?id=7872&start1=0&start2=20&sourcetab=1 diterbitkan pada  19 Mei 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: