Kiri Islam, antara Modernisme dan Postmodernisme

Buku : Kiri Islam (telaah pemikiran Hasan Hanafi antara modernism dan posmodernisme)

Pengarang : Kazuo Shimogaki

Penerbit : LKIS

Tebal buku : 186 halaman

Menyadari akan kemunduran umat islam dan kemajuan barat, DR. Hasan Hanafi mencoba membuat sebuah analisa mengenai akar penyebab kemunduran umat islam dan memberikan pemikiran terhadap solusi agar umat islam terlepas dari belenggu kemundurannya. Pemikiran Hasan Hanafi ini terangkai dalam satu gagasan yang mengandung nilai – nilai kekirian yang berbasis kepada keislaman dan spirit perlawanan terhadap segala bentuk penindasan, kolonialisasi,dll. Kiri islam yang menjadi gagasan utama pemikiran Hasan Hanafi merupakan kepanjangan tangan dari pikiran para pemikir islam lainnya seperti Muhammad Abduh dan Al afgani.

Basis pergerakan dalam pemikiran Hasan Hanafi dalam kiri islam adalah pembangunan kembali semangat Tauhid. Semangat Tauhid dinilai sangat relevan dengan sebab musabab kemajuan islam yang pernah diraih pada masanya. Semangat tauhid dengan mengembalikan Tauhid secara kontekstual kepada realita kehidupan manusia bukan sekedar melihat sudut ketuhanan saja. Oleh karena itu, Hasan Hanafi mengertikan makna Tauhid  sebagai “penyatuan”. Dengan demikian sudah jelas bahwa Hasan Hanafi mencoba membuat suatu analisisi korelasional antara Ketuhanan dan Kemanusiaan. Korelasi antara Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam buku islam kiri ini juga mengutip pernyataan dari Toshi Kuroda yang mengatakan bahwa dalam Tauhid secara logis dapar ditarik pengertian bahwa penciptaan Tuhan adalah esa. Ia menolak segala bentuk diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, kelas, garis keturunan, kekayaan, dan kekuasaan. Ia menempatkan manusia dalam kesamaan. Ia juga menyatukan antara manusia dan alam yang melengkapi penciptaan Tuhan, Keesaan Tuhan berarti juga Keesaan kehidupan.

Makna Tauhid yang dipaparkan oleh Hasan Hanafi bukan lagi sekedar menyinggung masalah Ketuhanan saja tetapi dia mencoba mengkorelasikannya dengan kehidupan manusia. Semangat Tauhid yang lebih di fokuskan kepada pembebasan manusia dari segala belenggu termasuk imprealisme dan kolonialisme, disini letak subtansi dari islam kiri yang digagasnya. Hanafi menolak bahwa kiri islam adalah islam yang berbaju marxisme karena hal itu makna revolusioner dari islam itu sendiri. Namun perlu kita garis bawahi, antara islam kiri dan marxisme memiliki satu kesamaan yaitu terletak pada spirit anti kolonialisme, anti imprialisme dan anti penindasan hak – hak.

Kolonialisme menurut Hasan Hanafi merupakan kejahatan besar yang menjadi fokus pemikiran kirinya khususnya kolonialisme yang dilakukan barat atas bangsa – bangsa non barat.  Hanafi melihat permusuhan antara barat dan dunia arab melalui  pendekatan historis dengan mengaitkan konfortasi tersebut dengan konfortasi yang dimulai sejak perang salib dan berlangsung hingga revolusi yang terjadi di Iran.

Pergeseran kolonialisme barat yang pada mulanya melakukan imperialisme fisik yang kemudian saat ini sudah bergeser kepada imprealisme kultural, bagi Hasan Hanafi ini merupakan ancaman yang serius bagi dunia islam yang harus segera diantisipasi. Menurutnya barat ingin agar bangsa – bangsa secara kultural lemah, kemudian kemampuan kreatif mereka dibelenggu dan akhirnya kebudayaan mereka diubah begitu rupa dan di masukan ke dalam “museum kebudayaan” sehingga mudah didominasi”. Pemikiran Hasan Hanafi ini sangat relevan sekali dengan realita yang saat ini ada, kebudayaan barat seolah menjadi kebudayaan yang wajib diikuti oleh dunia islam yang mengakibatkan kebudayaan – kebudayaan lokal menjadi terkikis dan hanya bersemayam dalam museum – museum kebudayaan. Keadaan ini merupakan keadaan yang seharusnya disadari sebagai ancaman yang serius, baratisasi yang menjamur di dunia islam seharusnya segera dapat difilterisasi sehingga kebudayaan yang baik dari barat dapat diadopsi dan kebudayaan yang tidak relevan segera diantisipasi sehingga budaya lokal tidak terkikis. Akan tetapi secara sadar dunia islam tidak dapat menolak secara total kepada kebudayaan barat karena arus globalisasi mau tidak mau memaksa kita untuk mengadopsi budaya barat itu sendiri. Disinilah tantangan dunia islam dalam melakukan filterisasi kebudayaan.

Marxisme juga ditentang oleh Hasan Hanafi dengan menyebutnya sebagai produk dari barat sentrisme yang merasuk kepada pergerakan kaum buruh yang memperjuangkan penghilangan atas pertentangan kelas. Namun sekali lagi perlu digaris bawahi, pemikiran Hasan Hanafi tersebut perlu dikritisi dan seharusnya dia tidak menyebut marxisme sebagai produk dari barat sentrisme karena memang antara kiri islam dan marxisme merupakan satu instrument yang sama – sama menolak kolonialisme dan imprealisme. Kelemahan Hasan Hanafi yang mencoba membeda – bedakan antara islam kiri dan marxisme secara historis, tanpa melihat kesamaan spirit perjuangan diantara keduanya.

Kiri islam yang digunakan Hasan Hanafi sebagai hasil pemikirannya yang menentang kolonialisme dan imprealisme merupakan responsinya atas tantangan barat melanjutkan pemikiran para tokoh sebelumnya. Kiri menurutnya merupakan sebuah simbol atas perlawan dan kritisme. Kiri islam merupakan sebuah bentuk pembebasan, demokrasi dan perjuangan dalam bentuk apapun. Namun yang terjadi justru banyak pihak yang salah menafsirkan istilah kiri islam ini, kiri kadang salah ditafsirkan sebagai simbol dari kekafiran.

Barat sentrisme merupakan fokus perhatian dalam pergerakan islam kiri versi Hasan Hanafi ini, dia menilai bahwa salah satu tugas kiri islam adalah untuk mengembalikan barat pada batas – batas ilmiahnya dan mengakhiri mitos mendunianya. Penilaian Hasan Hanafi terhadap barat khususnya dalam aksi kolonialisme, imprealisme, kapitalisme, barbarian, dispose, matrealistik dan segala bentuk kecacatan sosial kultural yang ia sandarkan kepada perspektif historis sehingga secara sengaja ia membuka wajah peradaban barat. Pembukaan wajah peradaban barat ini seharusnya menjadi sebuah perbandingan studi bagaimana dunia islam belajar mengembangkan peradabannya minimal selangkah lebih maju dari barat dengan menafikan wajah buruk peradaban barat. Sehingga wacana ini bukanlah sekedar wacana dalam tugas kiri islam akan tetapi implementasinya secara kongkret dalam dunia islam.

Melihat realita akan kemunduran dunia islam, Hasan Hanafi mencoba memberikan sedikit pemikiranya mengenai hal ini. menurutnya kemunduran dunia islam di karenakan oleh beberapa faktor diantaranya adalah dominannya sufisme, pergeseran rasionalisme kepada sufisme seakan menjadi faktor kemunduran dunia islam. sufisme yang lebih memberatkan diri pada aspek ukhrawi dan lebih condong meninggalkan aspek duniawi menjadi awal kemunduran islam. Menurut Hasan Hanafi salah satu seranga sufisme tehadap rasionalisme adalah hasil serangan Al Ghazali terhadap ilmu – ilmu rasional (jalinan sufisme dan asy’ariyah) yang menurutnya hal itu berlangsung hingga kini.

Pergeseran rasionalisme menjadi sufisme dapat dibenarkan merupakan salah satu sebab dari kemunduran umat islam. karena tidak balancenya kehidupan sufistik yang lebih menitik beratkan kehidupan ukhrawi ketimbang duniawi, sehingga terkadang hal tersebut menafikan segala bentuk rasionalisme dan justru lebih sering mengamini segala bentuk takhayul. Dalam hal ini lah dunia islam mengalami kemandekan keilmuan dan sains, seiring dengan matinya rasionalisme.

Hasan Hanafi mengkritik sufisme dengan menjelaskan akar krisis dunia islam yang didalamnya termasuk serangan Ghazali terhadap ilmu – ilmu rasional. Kritikanya mengenai metode interprestasi Al Quran secara tekstual, perpecahan umat islam kedalam 73 kelompok, kritikan terhadap asy’ariyah karena pandangan dunianya yang detemistik, sentralistik dan otoritatif dan terakhir Hasan Hanafi mengkritik mengenai rasionalisme didalam khazanah tidak ditempatkan pada posisi netral atau kritis, tetapi pada posisi yang kontradikitif.

Khazanah islam klasik yang dimaksudkan oleh Hasan Hanafi adalah bagaimana khazanah islam klasik memasukan unsur kemanusiaan dalam konteks Ketuhanan. Artinya harus ada korelasi antara konteks Ketuhanan dan Kemanusiaan. Menurut dia harus ada transformasi kebudayaan  dari pengetahuan tentang Tuhan pada pengetahuan tentang manusia. Korelasi tersebut sebenarnya merupakan sebuah wacana bagus dalam merasioanalisasikan khazanah islam, sehingga keislaman bukan saja sebagai dokrinisasi terhadap praktik – praktik ritual keagamaan tetapi bisa ditransformasikan kepada nilai – nilai kemanusiaan yang universal.

Dede Kurniawan

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: