PERAN DAN FUNGSI PANCASILA

Pancasila Dasar Indonesia Merdeka

            Suasana forum BPUPKI seakan bergelora ketika Ir. Sukarno menyampaikan gagasannya yang kamudian dikenal dengan Pancasila pada 1 juni 1945, gagasan yang telah mengilhami setiap langkah perjuangan beliau selama puluhan tahun, gagasan yang digali dari serpihan sejarah bangsa yang sekian lama dihempas kolonialisme. Sebagai dasar Indonesia merdeka, Pancasila tentunya memiliki fungsi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, menjadi Sumber dari segala sumber hukum di Indonesia karena merupakan sarana mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Bangsa Indonesia dan juga sebagai Falsafah  berbangsa dan bernegara kita yang akan tumbuh menjadi sikap keberpihakan terhadap sila-sila yang termaktub didalamnya, menjadi Dimensi yang mengukur secara akurat pertumbuhan perilaku Bangsa Indonesia secara budaya, hukum, sosial, politik dan ekonomi agar lingkungan yang terbentuk menunjukkan lingkungan Bangsa Indonesia yang berkepribadian. Dan akhirnya pancasila pun akan digunakan oleh Negara sebagai Acuan dasar dalam membangun segala peraturan dan perundang-undangan baik ditingkatan nasional maupun ditingkatan lokal.

Melihat fenomena dewasa ini, dimana kehidupan negara semakin menjauh dari rakyatnya, tentu kita bertanya apa yang salah dan apa yang harus di benahi, persoalan mendasar ialah apakah peran dan fungsi pancasila sebagai buah pikir The Founding Father pernah berjalan sebagaimana mestinya, sementara berbagai uapaya pembelokan sejarah hingga saat ini masih terjadi dan tanpa disadari oleh setiap anak negeri ini. Menemukan jawaban atas persoalan ini tentu diperlukan pemahaman sejarah yang “Benar” sebab tanpa pemahaman sejarah yang benar kita tidak akan pernaah meneguhkan bahkan menemukan peran dan fungsi pancasila apalagi mewujudkannya kedalam tatanan sistem kehidupan Nation-State kita.

Pelurusan sejarah, Peneguhan peran dan fungsi pancasila

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa peneguhan jatidiri sebuah bangsa tidak lepas dari pemahaman sejarah bangsa yang benar. Pemahaman sejarah yang dimaksud ialah memahami sejarah sebagai suatu rangkaian kejadian kausatif yang selalu memiliki kaitan kebelakang (Backward linkage ) maupun kaitan kedepan (Forward Linkage) dan tentu saja tidak bergerak tanpa tujuan, sejarah harusnya dipandang sebagai ilmu pengetahuan dan tidak sebatas cerita masa lalu yang hanya menyimpan hikmah, memang benar adanya bahwa kejadian masa lalu tersebut memiliki makna yang tersembunyi, namun bagaimana dan dengan apa kita mampu memetik makna dari setiap kejadian, disinilah perlunya sebuah metode dalam mengurai kejadian-kejadian sejarah menjadi sebuah bangunan ilmu pengetahuan hingga akhirnya kebenaran yang terkandung didalamnya menjadi terkuak, tentu saja hal itu dapat dilakukan bilamana berbagai penyimpangan sejarah yang pernah terjadi terlebih dahulu harus diluruskan.

Terkait soal pelurusan sejarah, melalui tulisan ini penulis mengajak kita semua untuk memperhatikan beberapa peristiwa penting yang pernah terjadi sepanjang perjalanan Bangsa Indonesia, terdapat beberapa pertanyaan yang terlebih dahulu harus dijawab sebelum kita berbicara panjang lebar mengenai  pembangunan karakter bangsa, pertanyaan tersebut antara lain ; Kapankah Bangsa Indonesia lahir?. Mendengar pertanyaan ini pikiran kebanyakan rakyat Indonesia pasti tertuju pada momentum Proklamasi 17 Agustus 1945. Namun apakah pikiran demikian ini dapat dibenarkan? Sebab teks proklamasi yang dibacakan Ir. Sukarno merupakan pernyataan Kemerdekaan Bangsa Indonesia bukan sebuah pernyataan kelahiran.

Perkataan “lahir” disini dapat diartikan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada, kemudian menjadi ada. Lalu kapankah sesungguhnya Bangsa Indonesia ini menjadi ada? Pertanyaan ini dapat terjawab bila kita mulai mengurai fakta sejarah, sejak kapan wilayah nusantara yang dahulu dihuni berabagai kerajaan ini mulai disebut wilayah Indonesia? Sejak kapan Penduduk yang mendiami wilayah tersebut menyebut dirinya Bangsa Indonesia? Dan sejak kapan bahasa Indonesia mulai digunakan luas oleh penduduk wilayah tersebut sebagai bahasa persatuan?. Tak dapat dipungkiri pertanyaan demi pertanyaan diatas akan menggiring kita pada suatu peristiwa yang menetapkan lagu Indonesia Raya sebagaai lagu kebangsaan, peristiwa itu yang kini kita kenal sebagai peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Oleh karena itu, jawaban dari pertanyaan awal kapankah bangsa Indonesia lahir ialah pada saat Sumpah Pemuda di Ikrarkan yaitu pada tanggal 28 Oktober 1928.

Mengapa para sejarahwan kita terkesan malu bahkan cenderung menutup-nutupi fakta bahwa Bangsa Indonesia terlahir pada momentum Sumpah Pemuda? tentu karena sejarahwan kita  mempercayai defenisi Bangsa yang dikemukakan oleh Ernest Renan maupun Otto Bauer yang mengesampingkan aspek wilayah dalam mendefenisikan bangsa, sedangkan Bung Karno dalam sebuah tulisannya pernah menyatakan bahwa Bangsa ialah keterikatan antara orang dengan bumi dimana dia berpijak. Pembaca tentu bertanya kenapa terminologi Bangsa menjadi begitu penting untuk dibahas, sebab keberadaan bangsa ialah suatu kepastian yang tak dapat ditolak oleh siapapun juga, adakah seseorang diantara kita yang pernah meminta dilahirkan menjadi bangsa Indonesia?. Kebenaran Bangsa bersifat absolut karena merupakan Pemberian (Given) dari Sang Maha Pencipta ( Q.S. Al Hujurat 13)

Selain menegaskan bahwa 28 Oktober 1928 sebagai hari lahirnya Bangsa Indonesia, pelurusan sejarah yang seharusnya dilakukan ialah menyatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang dibacakan oleh Ir. Sukarno dan Drs. Muhammad Hatta pada 17 Agustus 1945 ialah Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia mengingat selama ini kita selalu memperingati tanggal 17 Agustus sebagai Hari Ulang Tahun Negara Republik Indonesia (HUT-RI). Fakta sejarah dengan tegas melalui teks Proklamasi membuktikan bahwa pada saat Teks tersebut dibacakan, Negara Republik Indonesia sama sekali belum ada, Ir. Sukarno dan Drs. Muhammad Hatta pun pada saat membacakan teks tersebut belum berstatus sebagai Presiden maupun wakil Presiden RI karena memang RI belum berdiri pada hari itu. Meninjau hasil Konferensi Montevideo 1933 tentang unsur negara  bahwa sebuah Negara dinyatakan sah bilamana memiliki Rakyat, wilayah dan Pemerintahan berdaulat yang diatur dalam Konstitusi resmi negara tersebut. Maka dapat dikatakan peringatan 17 Agustus sebagai HUT-RI merupakan sebuah tindakan ahistoris karena bertentangan dengan fakta sejarah. Seluruh Bangsa ini seolah terhenyak dalam peringatan sejarah yang palsu, disinilah kaum muda seharusnya berfikir kritis dan bertindak kongkrit melakukan pelurusan sejarah dengan kembali mempertegas bahwa 17 Agustus sebagai Hari Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia (PKBI), bukan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT-RI). Perhatikan penggalan isi Pembukaan Undang – Undang Dasar (UUD) 1945 dibawah ini :

“ Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,  dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan  kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam  permusyawaratan/ perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Alinea ke-empat UUD’45 tentu dapat dijadikan rujukan bahwa memang yang menyatakan merdeka pada 17 Agustus 1945 ialah Bangsa Indonesia bukan Republik Indonesia.  Negara Republik Indonesia sendiri berdiri pada saat disahkannya UUD’45 menjadi konstitusi oleh PPKI yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah Proklamasi dibacakan. Dalam alinea tersebut, kalimat “Maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu undang-undang dasar negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara republik Indonesia“. Menyatakan bahwa Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia yang dinyatakan pada 17 Agustus 1945 diwujudkan secara kongkrit dalam bentuk sebuah Negara melalui UUD, sementara UUD sendiri baru disahkan pada 18 Agustus 1945, dimana Pasal 1 ayat 1 UUD’45 menyatakan “ Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik”. Klausul ini menjadi bukti bahwa Republik Indonesia berdiri pad 18 Agustus 1945. Oleh karena itu peringatan HUT-RI seharusnya dilakukan setiap tanggal 18 Agustus.

Sekilas persoalan ini menurut beberapa pandangan tidak begitu urgen. Namun bagi penulis pelurusan sejarah ini mutlak harus dilakukan oleh setiap elemen bangsa terutama oleh Pemerintah RI. Bilamana pelurusan sejarah ini dikerjakan maka akan terbentuk suatu konstruksi filosofis yang unik dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Menyatakan 28 Oktober 1928 sebagai Hari Lahirnya Bangsa Indonesia, kemudian menyatakan 17 Agustus sebagai Hari Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Menyatakan 18 Agustus sebagai HUT-RI akan berdampak luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita, karena k akan diteemukan bahwa Konstruksi NKRI sama sekali berbeda dengan Negara manapun di dunia. NKRI memliki bangunan filosofis berupa; Bangsa Indonesia sebagai pondasi dan Negara Republik Indonesia sebagai Bangunan. Karena pada hakekatnya Bangsa Indonesia lah yang mendirikan Negara Republik Indonesia. Proses pelurusan ini akan berdampak pada sistem ketatanegaraan kita dan perlahan akan membentuk cara berfikir yang jauh berbeda dengan cara berfikir yang dikembangkan di seluruh dunia.

Sebagai perbandingan, kita dapat melihat bagaimana negara-negra lain di dunia  memiliki konstruksi filosofis yang berbeda karena terbentuk dari Negara yang merupakan eksistensi kekuasaan segelintir elit yang kemudian menetukan entitas kebangsaannya. Yang menarik ketika pelurusan sejarah ini dilakukan ialah akan kita temukan bahwa NKRI merupakan satu-satunya Negara di dunia yang memiliki Konstruksi yang berbeda yaitu Bangsa yang mendirikan Negara.

Kesimpulan

Perbedaan konstruksi yang diuraikan diatas telah menunjukan bahwa kita memliki karakteristik yang berbeda dengan negara manapun didunia. Sehingga dapat dipastikan bahwa pola pembangunan yang dilakukan pasti pula berbeda. Jika negara lain membangun kehidupannya berawal dari Negara sebagai eksistensi kekuasaan dan sebagai organisasi yang menguasai seluruh wilayah. Maka NKRI seharusnya dibangun berawal dari bangsa yang kemudian menentukan arah kebijakan negara, sebab negara hanya perangkat administrasi yang melakukan pengelolaan (manajemen) atas aset yang dimiliki Bangsa baik berupa SDA ,SDM maupun aset yang lainnya, disinilah kedaulatan rakyat akan betul-betul dirasakan karena rakyat memiliki kekuatan untuk menentukan arah kebijakan melalui mandat kepada negara sebagai organisasi yang didirikannya, sebagimana adegium “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” . Faktor lain yang juga tidak boleh dilupakan ialah menegaskan bahwa Bangsa dan Negara ialah dua terminologi yang berbeda, mengingat batasan kedua istilah tersebut kini kian terasa kabur karena cenderung disama-samakan.

Upaya pelurusan sejarah mutlak harus dikerjakan oleh setiap elemen bangsa ini, sebab pancasila sebagai Software hanya akan berjalan dalam sistem operasi yang compatible, dan sistem operasi yang compatible dengan pancasila ialah sistem NKRI sesungguhnya berdasarkan sejarah yaitu Bangsa Indonesia sebagai Pondasi dan Negara Republik Indonesia sebagai bangunannya.  Sehingga peran dan fungsi pancasila pun dapat berjalan, menjadi Sumber dari segala sumber hukum yang kemudian menstandarkan aneka ragam keyakinan Bangsa Indonesia kedalam sebuah Falsafah Bangsa, menjadi dimensi yang mengukur secara akurat sikap dan perilaku seluruh Bangsa indonesia dan akhirnya akan digunakan sebagai Acuan dalam menetapkan segala peraturan dan perundang-undangan di NKRI.

Ditulis oleh : Muhammad Wildan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: