Robert Nozick : Utopia

Robert Nozick sewaktu masih muda adalah seorang sosialis dan sangat dinamis. Beberapa tahun setelah itu ia merupakan pendukung individualism radikal yang sangat penting dalam sejarah liberal Amerika. Bahkan, di tangan Nozick liberalisme klasik hadir kembali di AS. Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah Anarchy, State and Utopia. Teori yang dihasilkannya terinspirasi John Locke tentang hak-hak yang tak dapat dihilangkan dan harus dilindungi.

Pemahaman abad pertengahan di mana Negara sangat kuat kerena mendapatkan legitimasi sakral keagamaan oleh beberapa filsuf liberal berusaha diruntuhkan. Bahkan, liberal anarkhi menginginkan masyaarakat tanpa Negara karena Negara,meminjam pernyataan Popper, adalah kejahatan yang tidak terhindarkan. Cara pandang abad pertengahan di balik, dari posisi Negara yang kuat menjadi lemah atau bahkan diabaikan sama sekali. Nozick berupya mendamaikan dua kubu ini, kaum yang menolak Negara (libertarian anarkhi) pada satu sisi dan golongan yang menginginkan peran Negara pada sisi lain.

Menurut kaum anarkhi, keberadaan Negara tidak perlu karena akan mencederai kebebasan yang sejatinya dipertahankan oleh individu. Betapa tidak, kewajiban-kewajiban yang dipaksakan atau campur tangan Negara secara otomatis memangkas kebebasan seseorang. Bahkan, menurut Nozick, pemaksaan oleh Negara bisa jadi penyeragaman pemahaman keagamaan,dll. Dan kita, tambah Nozick, tidak menginginkan kejadian semacam ini.Yang menjadi fondasi utama dan paling tinggi nilainya bagi kaum liberal adalah kerangka moral, bukan kerangka legal.

Nozick hadir untuk mendamaikan dua pemahaman ini. Pemahaman kaum liberal anarkhi yang memperjaungkan kebebasan dan tidak menginginkan Negara dan pemahaman akan pentingnya peran Negara. Pertanyaan yang Nozick ajukan dan sulit atau tidak bisa ditolak kaum anarkhi adalah apa legalitas Negara? Yang Nozick maksudkan dengan pertanyaan ini karena Negara diperlukan untuk menjamin keamanan dan fasilitas publik. Sebab, tidak mungkin keamanan dikelola secara pribadi atau perseorangan karena ongkosnya akan sangat mahal.

Fasilitas publik juga tidak mungkin dibangun oleh perseorangan. Rasa memiliki itu tidak mungkin muncul terkait dengan fasilitas publik. Dan ongkos yang harus dibayar juga sangat mahal. Menurut Nozick, di sinilah peran Negara diperlukan. Ultra Minimal State yang dimaksud Nozick adalah keadaan primitif di mana setiap orang menginginkan perlindungan karena kekacauan terjadi di mana-mana. Namun yang paling bagus menurut Nozick adalah minimal state karena ia (minimal state) sama dengan gagasan utopia.

Menurut penjelasan Luthfi Assyaukanie, utopia semacam model yang tidak untuk direalisasikan secara utuh. Sebab, utopia semacam idealisme yang ingin diwujudkan. Karena ia adalah model dari idealisme,maka tidak mungkin atau sangat sulit untuk mewujudkannya secara utuh. Lawannya adalah dystopia.

Nozick melakukan kritik tajam terhadap buku John Rawl, Theory of Justice. Kritikannya terhadap John Rawls terkait dengan keadilan distributif. Menurut Nozick, keadilan distributif menafikan sejarah kepemilikan. Segala apa yang dimiliki memiliki sejarah dan tidak hadir secara tiba-tiba. Dan keadilan distributif menafikannya.

Penjelasan yang cukup menarik, oleh Nozick, terkait dengan justifikasi pajak. Menurut dia, pajak dapat dibenarka dalam tradisi liberal. Ini mengacu pada teori hak milik yang ia sistematisasikan. Teori ini ingin mengatakan bahwa hak kepemilikan menjadi sah ketika memenuhi syarat. Sebaliknya kepemilikikan dianggap tidak sah jika mencederainya. Teori yang ia formulakan adalah hak milik itu dibenarkan ketika diperoleh berdasarkan perolehan atau jerih payah keringat sendiri. Dan ini harus terjadi secara adil

Kedua, hak milik dapat dibenarkan ketika terjadi pengalihan harta dari yang satu kepada yang lainnya dan diakukan secara adil. Prinsip keadilan bagi Nozick sangat penting dalam konteks pertama dan kedua. Ketiga, prinsip pengolahan atau perbaikan. Jenis ketiga ini mirip dengan zakat dalam tradisi Islam. Argumentasi yang dikemukakan karena apa yang dihasilkan tidak menutup kemungkinan mendhalimi atau mengganggu hak orang lain. Oleh karena itu prinsip ini menjadi penting sebagai kompensasinya. Teori ketiga ini kemudian dijadikan dasar untuk menjustifikasi pajak.

Abd. Rahman, Direktur Eksekutif Madjid Politika

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: